Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan masyarakat Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan besar.
Berikut adalah beberapa poin utama mengenai Ogoh-ogoh:
Fungsi Ritual: Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau kota pada malam sebelum Hari Raya Nyepi, yaitu pada malam Pengerupukan (Tilem Kesanga). Prosesi ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif di lingkungan sekitar agar tercipta keharmonisan sebelum memasuki tahun baru Saka.
Simbolisme: Meskipun sering digambarkan dengan wujud yang menyeramkan, taring panjang, dan mata melotot, Ogoh-ogoh adalah simbol sifat buruk, keserakahan, dan segala hal negatif dalam diri manusia atau alam yang harus “dinetralisir” atau dibersihkan.
Proses Pembuatan: Saat ini, pembuatan Ogoh-ogoh telah berkembang menjadi ajang kreativitas seni yang tinggi. Banyak yang dibuat menggunakan bahan ramah lingkungan seperti bambu, kertas, dan anyaman, meskipun beberapa masih menggunakan bahan styrofoam.
Prosesi Pengerupukan: Setelah diarak, biasanya Ogoh-ogoh akan dibakar (disimbolkan sebagai pemusnahan sifat buruk) atau disimpan sebagai bagian dari karya seni, tergantung pada kebijakan adat setempat.
Prosesi ini kini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga telah menjadi daya tarik budaya yang sangat dinikmati oleh masyarakat lokal maupun wisatawan di Bali.
#OgohOgoh #BaliCultural #Nyepi #Pengerupukan #BudayaBali
Youtube Channel: Ngurah Surya Kusuma

